Kamis, 04 Maret 2010

Saat teduh sudah menjadi aktivitas yang mulai terlupakan. Kalau kita berbicara mengenai kekristenan, itu menggambarkan adanya hubungan pribadi antara seseorang dengan Kristus penyelamatnya. Kita bisa saja tahu bahwa Yesus itu Tuhan dan Dia mati di kayu salib 2000 tahun yang lalu tanpa mengalami kelahiran kembali. Jadi apa perbedaanya, orang yang dilahirkan kembali adalah yang menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan secara pribadi. Ketika kita dilahirkan kembali, kita memiliki hubungan yang pribadi pula dengan Allah Tritunggal yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Kita berhak memanggil ALLAH-Tuhan yang menciptakan dan berkuasa atas alam semesta-dengan panggilan Bapa karena kita sudah dilahirkan kembali menjadi anak-Nya dengan menerima karya penebusan Yesus di kayu salib. Inilah dasar hubungan pribadi itu.

Kembali ke saat teduh, secara sederhana saat teduh adalah saat dimana kita berhubungan secara pribadi dengan Tuhan. Sama seperti ketika kita berhubungan dan berbicara dengan bapa kita di bumi, seperti itulah harusnya yang terjadi di saat teduh. Percakapan kita bukan sesuatu yang dibuat-buat, pujian dan penyembahan yang kita naikkan benar-benar menunjukkan kasih yang murni kepada Bapa dan penuh dengan rasa syukur. Kita tidak perlu bingung apa yang harus kita ucapkan, bahkan kita tidak perlu memikirkan apa yang harus kita doakan, semuanya mengalir secara alami.

Kadang aku sendiri berusaha mencari-cari apa yang menyebabkan kekeringan dalam rohaniku dan mengira ada sesuatu yang sangat rumit yang harus aku selesaikan (bereskan). Ternyata jawabannya sederhana, aku sudah kehilangan makna saat teduh. Mari kita kerjakan kembali hal yang sederhana ini. Tuhan berjanji kalau kita tinggal melekat pada-Nya kita akan berbuah dan kita tidak bisa membaliknya (perumpamaan pokok dan ranting). Mulailah dengan komitmen yang sederhana, dengan berjanji untuk bangun pagi dan menyediakan waktu secara konsisten setiap pagi untuk saat teduh. Awalnya tidak perlu lama-lama karena saya percaya, semakin lama kita akan semakin haus untuk bersekutu dengan Bapa.

Apa yang dilakukan ketika saat teduh? terserah Anda, yang terpenting adalah kita sadar bahwa kita sedang berhubungan dengan Bapa. Tuhan Yesus yang setia memberkatimu!

Jan Friadi Sinaga